Renungan Ibadah Minggu 24 Agustus 2025

Mengasihi Tuhan Allah dan Sesama Manusia

(“Kelengi Tuhan Dibata Ras Teman Manusia”).

Matius 22: 34 – 40.

Hukum yang terutama
22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
22:36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Perikop ini muncul setelah serangkaian pertanyaan jebakan dari pemimpin
Yahudi (Mat. 21:23–22:46). Kini, seorang ahli Taurat bertanya, “Guru,
hukum manakah yang terutama?” Yesus menjawab dengan merangkum
seluruh hukum Allah dalam satu prinsip: Kasih.

A. Kasih yang Utama – Kepada Allah (ay. 37-38)
Yesus mengutip Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.”
• Hati: pusat komitmen dan kesetiaan.
• Jiwa: seluruh keberadaan, rela berkorban.
• Akal budi: pikiran yang terus mengenal dan memuliakan Allah.
Inilah fondasi utama iman—tanpa kasih kepada Allah, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong.

B. Kasih yang Kedua – Kepada Sesama (ay. 39)
“Yesus menambahkan: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Hal ini berarti:
• Kasih itu aktif, nyata dalam tindakan.
• Kasih itu tulus, peduli seperti kita menjaga diri sendiri.
• Kasih itu universal, melampaui batas suku, agama, atau status.
Kasih kepada sesama adalah bukti nyata bahwa kita sungguh mengasihi Allah.

C. Dua Engsel yang Menopang Segala Hukum (ay. 40)
Yesus berkata: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Taurat dan kitab para nabi.” Seperti pintu bertumpu pada dua engsel, demikianlah seluruh hukum Allah berdiri pada kasih kepada Allah dan sesama. Kita mungkin lemah untuk mengasihi, tetapi Roh Kudus memberi kuasa agar kita dimampukan hidup dalam kasih itu (Rm. 5:5).

Intinya: Kekristenan bukan soal aturan, tetapi soal relasi kasih—kepada Allah dan sesama. (RSL)

Warta Jemaat dapat didownload di sini